Menikmati Jalan Pasrah

Mungkin, banyak di antara kita yang belum tahu, bahwa kita telah menjual diri kepada Allah SWT untuk sebuah harga yang sangat tinggi; Jannah. Dia akan memenuhi janji-Nya, itu pasti. Sayangnya kita sering abai memantaskan diri meraih kesepadanan penawaran yang menggiurkan ini.

Karena memiliki, Allah berhak melakukan apa saja terhadap semuanya; menempatkan dalam istana atau memenjarakannya. Menutupi auratnya, atau membiarkannya telanjang. Melimpahi dengan harta atau membuatnya miskin papa. Memanjangkan usia atau memendekkannya. Membuatnya meraih kemenangan atau menderita kekalahan. Menguasakannya atas musuh atau dikuasakannya kepada mereka. Memanen pujian atau celaan. Dan hal-hal lain yang menjadi hak-Nya. Dan siapa yang bisa merubah jika Allah telah memutuskan?

Bukan hal yang mudah menjadi bagian dari kafilah yang menyerah dan tetap ridha atas takdir Allah, dan tidak menentang apa yang telah Allah lakukan untuk kita. Sebab seringkali apa yang kita harapkan tidak sejalan dengan apa yang Allah pilihkan. Yang kita benci justru menghadang di depan. Kita sering berkata, andai saja bukan begini begitu, bukan yang ini dan yang itu. Astghfirullah! Apakah kita lebih tahu dan lebih berhak menentukan?

Allah SWT telah memilihkan yang terbaik bagi hamba-Nya yang beriman. Meski zahirnya terkadang sulit dan berat, semisal kerusakan harta, kehilangan kedudukan, jabatan, keluarga, anak, atau bahkan, hilangnya dunia seisinya, ia adalah pilihan paling utama. Seperti apapun prasangka yang kita punya tentang Dia.

Sebab sungguh, Allah tidak menghalangi kita mendapatkan sesuatu karena kebakhilan, berkurangnya perbendaharaan-Nya, atau karena Dia menyembunyikan apa yang menjadi hak kita. Namun, Dia melakukannya agar kita kembali kepada-Nya. Agar kita menjadi mulia dengan menghinakan diri di hadapan-Nya, merasa kaya dengan perasaan membutuhkan-Nya, atau mereguk manisnya ketundukan dan kepasrahan kepada-Nya.

Bahwa dalam hal-hal yang tidak bisa kita mengerti, ada hikmah, kemuliaan, kesempurnaan, dan rahmat-Nya. Bahkan dalam paksaan-Nya, ada kelembutan kasih dan sayang-Nya. Juga bahwa, ketika Allah tidak memberi, adalah sebuah pemberian, ketika Dia menghukum adalah sebuah pengajaran, serta ketika Dia memberi ujian adalah kecintaan-Nya yang sempurna.

Kita ingin menunaikan pertintah Allah apa adanya. Menghadapkan ruh, qalbu, dan jasad kepada-Nya, bagaimana pun dan di mana pun ia, serta apa pun yang menjadi resiko pengiringnya. Tidak ada keinginan lain selain melaksanakannya sebanyak mungkin. Semuanya untuk sebuah perniagaan yang berkualitas, dan menunggu harga yang pantas, yang akan dibayarkan.

Sebuah pemahaman makna yang tidak mudah, namun mampu memberi energi luar biasa untuk pasrah yang lazat dan nikmat, jika kita mengetahuinya!

(sumber: Majalah Islam ar-Risalah, Edisi 108, Vol. IXNo.12)

One thought on “Menikmati Jalan Pasrah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s